LAMPUNG BARAT- Warga Desa Bandar Baru, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat Keluhkan Dampak Pelaksanaan Proyek Rekontruksi Jalan Ruas Liwa. Warga khawatir dengan kondisi kesehatannya terutama bagi anak anak karena terhirup debu dari aktivitas proyek tersebut.
Proyek rekonstruksi Jalan Ruas Liwa tepatnya di Pekon/Desa Bandar Baru, Kecamatan Sukau tentu diharapkan berjalan semestinya dengan memberikan kenyamanan bagi masyarakat sekitar dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Bukan justru sebaliknya menimbulkan keluhan dari warga dan pengguna jalan. Meski proyek tersebut baru saja dimulai.
Warga sekitar dan pengguna jalan mengeluhkan adanya pencemaran udara karena debu yang ditimbulkan oleh aktivitas proyek jalan senilai Rp. 3.5 Miliar lebih itu.
Warga dan pengguna jalan meminta pihak rekanan tidak hanya fokus terhadap pembangunan jalan saja. Akan tetapi hendaknya memperhatikan, dampak kesehatan masyarakat sekitar akibat debu dari pelaksanaan kegiatan proyek.
Pantauan awak media di lokasi proyek, setiap kendaraan yang melintas baik roda dua dan empat menimbulkan debu tebal hingga mengganggu pendangan dan pernapasan. Kondisi ini pun dikawatirkan dapat memicu ganguan kesehatan seperti infeksi gangguan pernapasan (ISPA) bagi warga sekitar dan pengguna jalan.
Bukan hanya pandangan dan kesehatan saja yang terganggu akibat debu. Tetapi menyebabkan ketidaknyamanan warga sekitar karena debu halus yang terbawa angin masuk dan mengotori rumah warga setempat. “Lihat kondisi rumah saya, nyaris semua isi rumah telah berdebu. Mau duduk saja bingung, kare a kotor semua oleh debu,” ujar Ibu Untung Senin (13/07/26).
Ibu Untung berharap, pihak perusahaan yang melaksanakan kegiatan itu tidak hanya fokus melakukan pembangunan saja. Tetapi hendaknya kesehatan warga setempat juga yang menjadi perhatian. “Kami dukung pembangunan ini. Tapi maunya ada penyiraman rutin agar agar meminimalisir debu gak sampai masuk kerumah-rumah warga,” Jelasnya.
Ibu Untung menambahkan, bahwa dalam kurun tiga hari ini belum ada penyiraman yang dilakukan oleh pihak rekanan. Padahal saat ini cuacanya sangat panas. Karena jarang di siram, membuat debu di pemukiman warga makin tebal.
“Saya malas menyapu, karena percuma baru dibersihkan sudah kotor lagi. Kalau pun menyapu saat ini saya lakukan ditengah malah sebelum tidur,” tukas Ibu Untung kepada awak media.
Roni, pengguna jalan juga mengeluhkan tebalnya debu di lokasi proyek. Akibatnya, selain pandangan terganggu, juga menyebabkan gangguan pernafasan saat melintasi jalan yang sedang dalam pengerjaan itu. “Debu ini sangat menganggu jadi susah nafas dan mata ini kemasukan debu setiap melintas,” ungkapnya.
Dia berharap, rekanan segera melakukan penyiraman rutin sebagai upaya antisipasi parahnya debu disepanjang lokasi proyek.
“Proyek ini anggaran miliaran, masak iya gak bisa untuk penangan debu. Cukup mengganggu debu-debu ini apalagi dimusim kemarau,” gumam Roni.
Sementara Ariski, pengawas lapangan CV. Mandiri Indotama, mengklaim pihaknya telah melakukan penyiram rutin dilokasi proyek sebagai antisipasi debu. “Kami rutin menyiram tiap hari,” katanya.
Dia mengaku, penyiraman debu belum di lakukan saat awak media tiba di lokasi proyek. ” Untuk hari ini belum, biasanya siang hari kami siram,” ucapnya.
Dikatakan Ariski, bahwa CV Mandiri Indotama akan melakukan rekontruksi Ruas Jalan Liwa sepanjang 400 meter dengan nilai kontrak Rp 3,5 Miliar lebih. Dalam nilai kontrak itu mencakup tiga titik lokasi pengerjaan.
“Ada tiga titik pengerjaan. Titik pertama dengan panjang 125 meter yang saat ini masih kita kerjaan. Dan kedua dengan panjang yang sama yakni 125 meter serta titik ke tiga dengan panjang 150 meter. Jadi total panjang rekontruksi jalan 400 meter,” terang Ariski.
Dia juga menjelaskan, saat ini pihaknya baru mengerjakan pemasangan batu mortar dengan ketinggian 40 cm dan lebar 25 cm. Sebelum melakukan pengecoran ruas jalan dengan ketebalan 30 plus 10 cm.
“Jenis pekerjan Rigit beton dengan ketebalan 40 cm. Mengenai teknis saya belum tahu, ini baru pemasangan batu mortal,” pungkasnya. (*)










Komentar