32 Tahun di Salak, Star Energy Geothermal Perkuat Energi Bersih Dan Ekosistem Halimun–Salak

SUKABUMI- Selama lebih dari tiga dekade, Star Energy Geothermal Salak, Ltd. (SEGS) telah menjadi bagian penting dari penyediaan energi panas bumi di Jawa Barat.

Kini dengan kapasitas terpasang 403,2 Megawatt (MW), operasi Salak terus berkembang dengan prinsip meningkatkan kontribusi energi bersih sekaligus menjalankan operasi secara bertanggungjawab di bentang alam Gunung Halimun dan Salak yang memiliki nilai konservasi tinggi.

Menurut Irwan Januar, Kepala Teknik Star Energy Geotermal Salak Ltd, Kapasitas tersebut berasal dari Unit 1, 2, dan 3 sebesar 180 MW, Unit 4, 5, dan 6 sebesar 208,7 MW, serta Binary Power Plant sebesar 14,5 MW yang mulai beroperasi pada 2025.

“Ke depan, pengembangan Unit 7 berkapasitas 40 MW yang direncanakan beroperasi secara komersial pada Desember 2026 akan membawa kapasitas Salak menjadi sekitar 443 MW”, ungkap Irwan, Selasa (18/08/26).

Irwan juga menjelaskan, pengalaman panjang di Salak menunjukkan bahwa keberlanjutan operasi panas bumi membutuhkan perspektif jangka panjang. “Selama lebih dari tiga dekade, Salak terus menghasilkan energi terbarukan yang andal sekaligus berkembang melalui peningkatan efisiensi dan optimalisasi sumber daya yang telah ada”, tutur Irwan.

Irwan menambahkan, pertumbuhan juga harus berjalan dengan disiplin dalam membatasi footprint operasi serta menjaga ekosistem tempat kami beroperasi. Dari wilayah kontrak sekitar 10.000 hektare, fasilitas panas bumi Salak menggunakan sekitar 236 hektare atau kurang dari 2,4 persen, yang mencakup pembangkit, well pad, jalan akses, dan fasilitas pendukung lainnya.

Sementara itu, Laksmi Prasvita, Head of Social Investment Policy and Communications Star Energy Geothermal mengatakan, konservasi berbasis data beroperasi di bentang alam gunung Halimun dan Salak yang menjadi habitat berbagai spesies penting dan dilindungi membawa tanggung jawab tersendiri.

BACA JUGA:  Diduga Tidak Transparan, Warga Pertanyakan Penyalurann CSR PLTA Way Besai

Karena itu, SEGS menjalankan restorasi ekosistem dan pemantauan biodiversitas sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan jangka panjang.

Melalui Green Corridor Initiative, sekitar 275 hektare habitat telah direstorasi dengan penanaman sekitar 250.000 tanaman dari 30 jenis pohon asli Halimun–Salak. ‘Program ini diarahkan bukan hanya untuk mengembalikan tutupan vegetasi, tetapi juga memperkuat fungsi habitat dan konektivitas ekologis.” ujar Laksmi.

Pemantauan lingkungan juga menunjukkan perkembangan positif. Pada periode 2023–2025, indeks keanekaragaman fauna Shannon-Wiener meningkat dari 2,50 menjadi 3,20, sementara indeks flora meningkat dari 2,52 menjadi 2,67. Pemantauan kertutupan pada kisaran 60–80 persen, tanpa kecenderungan penurunan progresif yang teramati sepanjang periode monitoring 2014–2025.

“Bagi kami, restorasi bukan sekadar menghitung berapa banyak pohon yang ditanam. Yang lebih penting adalah apakah fungsi habitat dan konektivitas ekologisnya kembali. Karena itu, kami menggunakan data dan pemantauan jangka panjang untuk memahami perubahan yang terjadi serta menentukan tindakan berikutnya,” terangnya.

Pendekatan berbasis data tersebut diperkuat melalui kolaborasi dengan pemerintah, pengelola kawasan konservasi, peneliti, dan organisasi konservasi.

Dalam Java-wide Leopard Survey (JWLS) di bentang alam Halimun–Salak, sebanyak 240 kamera pengintai ditempatkan pada 120 petak survei. Survei tersebut berhasil mengidentifikasi 51 individu Macan Tutul Jawa, termasuk tiga anakan.

Lebih jauh dikatakan Laksmi, Survei lapangan Halimun–Salak merupakan bagian dari kerja multipihak. Temuan tersebut menjadi baseline ilmiah untuk membantu memahami kondisi populasi, penggunaan ruang, serta kebutuhan pemantauan dan tindakan konservasi berikutnya.

“Pemantauan Elang Jawa di TNGHS juga telah mendokumentasikan 10 sarang aktif, terdiri dari tujuh di wilayah Gunung Salak dan tiga di Gunung Halimun, yang memberikan informasi penting mengenai habitat perkembangbiakan spesies tersebut. Bertumbuh bersama masyarakat khususnya yang berada di sekitar wilayah operasi merupakan keberlanjutan Salak.

BACA JUGA:  Raih Suara 87,79 Persen Parosil Mabsus Gelar Syukuran Dan Doa Bersama

Sekedar diketahui, sepanjang 2024–2025, program lingkungan, kesehatan, dan pendidikan SEGS menjangkau lebih dari 1.500 penerima manfaat langsung, termasuk layanan kesehatan bagi 1.019 warga, beasiswa bagi 27 mahasiswa, serta peningkatan kompetensi 144 guru di enam sekolah.

Operasi Salak juga membuka peluang ekonomi lokal. Saat ini terdapat sekitar 1.100 tenaga kerja kontraktor, dengan sekitar 88 persen berasal dari Sukabumi dan Bogor. (*)

 

 

banner 336x280

Komentar